Rain and Ren #1
#1 Rain and Ren
Namanya Narendra, Narendra Pratama. Orang lain memanggil nya "Ren" tiga huruf saja, aku mengenalnya dua tahun lalu di festival kembang api, ternyata dia teman kakaknya temanku, Luna, yang kebetulan saat itu aku di ajak oleh keluarga Luna, aku tertarik ketika melihat dia dengan sweater hitamnya itu tertawa bersama teman temannya.
Saat itu aku pikir tidak akan mengenalnya lebih, tapi aku salah, dan suatu hari ia berdiri di depan ku mengulurkan tangannya, “Hai, gue Ren ” katanya. Aku hanya diam melihat tangan itu mengarah didepanku, sampai suara memanggil namaku kemudian, “Rain? ”.
Jadi..
Ia mengenalku dan aku mengenalnya, kata "Hai" dan mengucap nama itu sekedar basa-basi.
***
Terhitung beberapa bulan yang lalu mulutku bersuara memanggilnya, "Kak Ren". Sekarang laki-laki yang sering aku pandang dulu itu selalu menatapku, dipenghujung hari tidak lepas dari
Rain, hows your day?
Rasanya masih kemarin, tapi seperti hari ini ia menunggu didepan rumahku, menyandar pada motornya, menunggu. Aku berkaca memastikan sekali lagi bahwa penampilanku sempurna untuk menemuinya, aku keluar dan dan membuka gerbang, ia langsung mengalihkan perhatiannya, tersenyum.
“Aku udah izin Bunda tadi, ” katanya.
Aku mengangguk, “Makasih Kak, ”aku akui aku masih canggung berhadapan dengannya, aku selalu melewatkan blush on setiap kali aku pergi dengannya, karena jika aku memakainya, wajahku akan benar benar pink.
Ia memakaikan helm, mataku sibuk melihat hal lain, tapi kembali gagal saat suara itu membuatku menatap matanya dan terkunci disana. “Rain?, ” panggilnya.
Pipiku memanas, ia malah tersenyum “Blush on kamu bagus, cantik ”asalkan ia tahu aku tidak pernah memakai benda itu ketika bersamanya.
“Ayo naik, ”
...
Malam ini cuacanya bagus, bulannya bersinar terang, orang-orang juga sepertinya merasakan hal yang sama, agak sedikit macet malam ini, aku memperhatikan dari atas sini, rooftop di cafe favoritku, Kak Ren berpamitan sebentar katanya ia ada perlu dengan temannya, ia ke turun ke lantai bawah, lumayan agak lama, ia meninggalkan aku sekitar dua puluh lima menit.
Dan sekarang pandanganku tidak lagi pada keramaian lampu lampu malam dibawah sana, aku sibuk memperhatikan siapa yang keluar masuk pintu, sampai aku diam ketika melihat Kak Ren membukakan pintu untuk perempuan lain, nampak mereka serasi, masih mengobrol bersama, tidak seperti Kak Ren ketika berjalan denganku, sama sama diam, pandanganku bertemu dengannya, obrolan mereka berhenti, aku memalingkan wajah kembali, pura-pura membuka handphoneku.
Perempuan itu duduk di samping Kak Ren yang berada didepanku, “Rain?” panggilnya.
Aku menatap keduanya, “Sena, ini Rain ” perempuan itu mengulurkan tangannya, mau tidak mau aku menyambut tangan itu.
“Sena”
“Rain”dan aku tersenyum canggung.
“Nama kalian hampir mirip ya?, ” ucapnya.
Kak Ren tampak tertawa kecil, “Lo langsung balik Sen, habis ini?, ”
“Sayangnya iya, makasi ya udah mau ketemu Ren, kapan-kapan lagi deh, ” katanya, aku hanya diam memperhatikannya.
Kak Ren juga memandangiku, “Maaf ya gua ngga bisa anter lu ke bawah, takut ada yg nawarin permen ke Rain, ”katanya.
Kurang ngajar juga ya seorang Narendra ini, aku tidak sepolos itu.
Perempuan itu mengangguk, tak lama sedikit obrolan ia pun pergi, aku mulai membenahi tas ku,
“Kak, Rain mau pulang, ”
“Rain?, kenapa?, ”aku menggeleng, “Aku udah pesen gojek, udah sampai dibawah,”
“Aku anterin, aku ganti uang gojeknya, ”
Aku menggenggam erat tasku, bingung, memang hubungan kami bukanlah apa apa, tidak ada hubungan khusus, tapi kayanya dia sama saja, aku tidak mau berharap lebih.
“Rain?, jangan bengong, ” katanya, aku menatapnya kembali, tersenyum.
“Makasih ya Kak udah ajak Rain main, Rain duluan, ”aku melesat pergi, Kak Ren nampak diam.
Tuh kan, benar. Berharap apa aku?
***
“Makasih ya Ren udah anter Rain lagi, ”
“Sama- sama Bunda, maaf Rain nya agak bete, ”
Bunda melihatku, aku tertunduk, kemudian ia tersenyum pada Kak Ren, “Gapapa, dia lagi red days, emang gitu, maaf repotin ya ”
“Ohh gitu, gapapa Bunda, Ren paham, ”
Bunda mengangguk, “Yaudah, Bunda masuk duluan ya, mau bebersih, ”
Bunda menyenggol lenganku, aku maju satu langkah, lebih canggung.
“Rain? masih marah?, ”tanya Kak Ren.
Aku menggeleng, “Rain ngga marah Kak, Makasih udah anterin, ”
“Rain bisa lihat ke arah Kakak?, ” Aku pelan pelan menatapnya, ia tersenyum tipis.
“Penjelasan aku di jalan jelas ngga?, ”
Tadi dijalan Kak Ren menjelaskan siapa itu Sena, dia teman kecil Kak Ren yang kebetulan saat ini sedang berkuliah di luar negeri, dan pas sekali malam ini ia ingin bertemu, walaupun ada sedikit ketidaknyamanan padaku, tapi satu hal membuatku tenang, perempuan itu sudah memiliki tunangan, tapi tetap, apa Kak Ren mendekatiku karena tidak ada harapan lagi pada perempuan itu ya?.
“Rain, ngga seperti apa yang dipikiran kamu ya, aku ngga pernah ada perasaan lebih ke dia, kita memang akrab, dan dia tunangan baru satu bulan yang lalu, ”
Tapi, aku dan Kak Ren juga baru beberapa bulan yang lalu kan?, masih tetap duluan perempuan itu.
Aku memegang lengan Kak Ren, menatapnya, “Iya Kak, aku ngga marah, aku cuma lagi red days aja, makasi ya buat semuanya, ”
Kak Ren nampan diam, “Rain? ”
“Kita ngga ada hubungan apa apa kan, we're just friend kak, it's okay, buat apa aku marah, ”
***
Ren POV
Gue pulang ke rumah dengan perasaan yang gelisah, di kalimat Rain terselip beberapa kata yang memang fakta dan bikin gue takut.
“....kita kan ngga ada hubungan apa apa”
“....makasih ya buat semuanya”
dan senyuman dia tadi itu bikin gue bungkam.
Gue buka handphone, tidak ada satupun notifikasi darinya, dan terakhir chat itu ada di gue, dia ngga balas lagi sudah satu jam yang lalu. Gue matiin lampu, buka jendela kamar, langit tiba-tiba hujan malam ini, suhu dingin hujan biar masuk, ditambah lampu di sudut kamar yang temaram. Gue lihat rokok yang terakhir gua sentuh satu tahun lalu, rasanya ingin kembali menghisap benda itu, rokok itu masih disana tapi sudah basi mungkin?.
Rain, andai lo tahu, mau sampai mana pun Sena, gue ngga pernah tertarik buat lebih dari teman, dan andai lo tahu, anak kecil yang sering lu peluk di taman itu gue.
“.....jangan sedih lagi ya Kak Renbow” suara Rain kecil itu ngga pernah gue lupa.
Badan gue yang gendut waktu itu, gue ngga ounya temen, dan papa sering bikin ribut dirumah, tapi tiap gue ke taman buat kabur karena muak sama keadaan ruman dan ngga ounya temen, selalu ada Rain kecil yang peluk gue, walaupun gue jarang memperlakukan dia baik dan ngga pernah berterimakasih.
Sampai akhirnya, mama papa cerai, dan mama pindah, dan gue baru ketemu Sena, gue pikir Sena bakal sama kaya Rain, nyatanya Sena beda, dia ngga mau main sama gue, dan gue selalu ngalah, tp waktu itu cuma dia yang mau temenan, sampai gue menginjak SMP, banyak perubahan.
Dan Sena punya perasaan lain gue tahu itu, tapi ucapan gue bikin dia yakin buat ninggalin gue dan kuliah ke luar negeri, katanya biar dia bisa lupa sama perasaan dia ke gue, waktu itu penolakan halus. Sampai akhirnya gue ketemu Rain, lagi.
Renbow, dulu nama belakang gue ada tambahan nama Papa, Narendra Pratama Putra Wibowo, banyak yang panggil gue itu, sampai gue ganti nama itu, cukup sampai Narendra Pratama.
Rain, kali ini gue ngga mau itu terjadi.
***
Rain menatap layar ponselnya, tertuju pada satu pesan belum dibaca, ia tidak mau meresponnya lagi, tapi ia merasa bersalah ketika melihat Ren yang langsung diam dan berpamitan pulang hanya tersenyum sangat tipis tanpa kata lagi.
Ia mematikan ponselnya dan tidur. Ia harap ia tidak bertemu dengan Ren lagi, Rain tidak akan berharap lagi, sudah cukup kesenangan sesaat.
Sayangnya memori memori beberapa bulan kemarin terlalu manis, Rain kembali membuka matanya, ia menatap bunga lily pink dari kejauhan yang Ren berikan minggu lalu, bunganya Rain rawat hingga tidak layu.
Rain masih ingat, alasan kenapa ia dibelikan bunga.
“Nih, ” Ren memberikan satu bouquet bunga lily pink.
Tapi pandangan Rain seolah banyak mengajukan pertanyaan, Ren tersenyum.
“Terimakasih Rain, ”
“Harusnya aku yang makasih Kak, ”
Tapi Ren menggeleng, “Terimakasih sudah cantik, bahagia terus ya?, ”
Rain menenggelamkan wajahnya, saat melihat dimana wajah Ren begitu jelas teduhnya, manisnya, yang hanya tertuju padanya, mimpi indah yang buruk.
Tidak, Rain tidak boleh mengalah seperti ini,
“Seandainya Kak Ren memang mau Rain, Kak Ren ngga bakal berhenti. ”
***
Continue..
see u eps 2!
Komentar
Posting Komentar