Satu Tahun
Menerka apakah aku bisa menerima semuanya apa adanya, dan di sisi lain aku banyak berandai andai, " seandainya-seandainya" , bagaimana jika seperti itu, seperti ini, dan seperti lainnya, dan faktanya tetap pada jalannya, manusia tidak bisa dirubah oleh manusia lain selain atas kehendaknya sendiri yang datang tulus dari hatinya, maka gelaplah "seandainya-seandainya" itu.
Kelabu, aku tidak bisa menerima seutuhnya, dan tentu belum bisa melepaskan satu rasa itu untuk aku lepas dari genggamanku yang sebenarnya sudah mulai merenggang, maka perlahan dibantu oleh keregangan dan keegoisan dan dalam satu hentakan, aku melepaskannya.
Tertanam tidak ada penyesalan untuk berakhir dan atas semua yang lalu, waktu itu yang datang hanyalah penyesuaian, membekas namun tidak untuk terulang, sayangnya "seandainya-seandainya" itu masih sering datang, menghantui, tak jarang berada diujung tanduk untuk kembali, namun satu bisikan meredamnya walaupun terkadang.
Secercah jalan aku tunjukan, namun nyatanya "seandainya-seandainya" masih selalu datang, dan sering diakhiri dengan kecewa, hingga aku menutup itu dan satu rasa ikhlasku mengiringi untuk menutupi abadi "seandainya-seandainya" itu.
Sekitar satu tahun yang lalu, dan ternyata butuh satu tahun itu untuk kembali, kembali dalam dekapan diriku sendiri.Menepis pertanyaan yang terlintas, biarkan semuanya berjalan pada jalannya, dan aku membangun secercah cahaya untuk mengundang satu lainnya untuk aku genggam abadi selamanya, dan setelah satu tahun itu, aku senang mendapati kembali apa yang pernah hilang.
Nafas berderu, disusul dengan rintik hujan, aku mencoba mundur beberapa langkah sampai tubuhku tepat untuk berteduh. Dari arah barat manusia berhamburan dan siluet seseorang disana membuatku segera berbalik, biarlah, apapun yang Tuhan rencanakan, aku biarkan setelah satu tahun itu.
Lima menit hujan berseteru, punggungku mulai bersandar pada tembok, sesekali aku terpejam.
“Je..” mataku menatap nya, sedikit menarik bibirku. “Apa kabar?, ” tambahnya.
Aku mengangguk, “Baik” dan tidak bertanya balik.
Dan seorang perempuan lain menyusul, ia melihatnya bertanya padaku, dan wajahnya seolah menuntut keberadaanku.
“Je, kenalkan ini Jani, ” ia menjeda sebentar melirik perempuan itu dan aku, kemudian menunduk menilap mulutnya dan kembali tersenyum tipis padaku, “Pacarku.”
Jani menyodorkan tangannya, aku membalasnya, kami bersalaman, aku tersenyum, “Aku Je, teman SMA El, salam kenal Jani, ”
“Salam kenal Kak Je, ” Ia menatap yang ia klaim "pacarku", baguslah setidaknya ia sudah mulai menghargai.
Menilik bicaranya sepertinya setelah denganku seharusnya ia belajar banyak hal, aku cukup menyadari, selamat berkelana kembali El.
Aku berpamitan dan pergi dengan taksi dengan perasaan yang biasa saja, aku cukup tahu dan aku cukup senang selayaknya teman temanku mulai memiliki seseorang untuk mereka. Tentu suatu saat seorang " Je" ini juga akan berada di titik puncak bahagianya dengan atau tanpa seseorang didalamnya, hanya belum.
***
Djemima masih dengan hujannya, dan itu satu tahun setelah Je bisa lepas dari semuanya, sekarang ia tersenyum cantik di altar dan tangannya melingkar pada lengan lelakinya, menyambut tamu undangan yang hadir, sampai berdirilah didepannya, “Happy wedding Je, ” ia pun tersenyum pada laki laki disamping Je.
“Terimakasih El, Senjani mana?, ” El melirik perempuan dengan rambut sebahu yang sedang bermain dengan bayi kecil disana, ia melambai.
Je tersenyum, “Sampaikan salam pada Senjani-mu ya, dan jagoanmu itu.”
El mengangguk, dan berbisik oada laki laki disamping Je, “Bahagiakan Je, ya! ”
Komentar
Posting Komentar